Anatomi merupakan salah satu ilmu cabang dari biologi yang mempelajari tentang
struktur dalam suatu makhluk hidup.Dalam hal ini ialah anatomi
tumbuhan.Ilmuanatomi tumbuhan ini sangat diperlukan untuk mengetahui bagaimana
struktur penyusun tubuh tumbuhan yang sering kita jumpai di lingkungan hidup
kita.
Namun dalam makalah ini penulis ingin menjelaskan gambaran umum tentang anatomi
salah satu organ terpenting pada tumbuhan yaitu daun. Daun merupakan salah satu
organ pada tumbuhan yang mengandung klorofil yang berfungsi dalam proses
fotosintesis sehingga menghasilkan oksigen yang kita hirup untuk beraktivitas
dan senyawa karbohidrat. Secara umum anatomi daun terbagi menjadi 3 jaringan
yang akan dijelaskan secara terperinci dalam makalah ini. Struktur anatomi pada
tumbuhan sangat berkaitan dengan bentuk morfologi tumbuhan itu dan juga
fisiologinya.Sehingga dapat diketahui bahwa antara anatomi, fisiologi, dan
morfologi tumbuhan itu saling berkaitan.
Makalah ini dapat menjadi pegangan ataupun referensi untuk memahami struktur
dan anatomi tumbuhan.Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan
bagi para pembaca.Akhir kata Tiada Gading yang tak retak; tiada sesuatu yang
sempurn adi dunia ini.Karena itu demi perbaikan makalah ini, penulis sangat
terbuka terhadap segala masukan yang membangun dari para pembaca.
Semoga Bermanfaat
Penulis
ANATOMI TUMBUHAN
Baik dari segi morfologi maupun anatomi, daun merupakan organ pada tumbuhan
yang memiliki keberagaman.Sangat sukar untuk membedakan dengan jelas baik
secara teoritis maupun secara praktis antara jaringan daun dan batang. Struktur
jaringan pengangkut dalam tangkai dan ibu tulang daun biasanya sama dengan pada
batang. Namun, ciri terpenting pada daun adalah bahwa pertumbuhan apikalnya
cepat terhenti. Pada Spermatophyta, aktivitas meristem apeks daun segera
terhenti, sementara bentuk dan ukuran daun ditentukan oleh pertumbuhan
interkalar dan marginal.
Terdapat bebrapa istilah-istilah menyangkut daun.Seluruh daun pada sebuah
tumbuhan disebut dengan Phyllom. Namun dikenal juga dengan beberapa
istilah seperti daun hijau, katafil, hipsofil,kotiledon, profil,dll. Hal
tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut;
1) Daun hijau
Daun hijau (foliage leaves)
berfungsi khusus untuk fotosintesis dan biasanya berbentukpipih mendatar
sehingga mudah memperoleh sinar matahari dan gas Co2.
2) Katafil
Katafil adalah sisik yang tampak
pada kuncup dan batang di bawah tanah, yang fungsinya sebagai pelindung atau
penyimpan bahan cadangan makanan.
3) Hipsofil
Hipsofil merupakan berbagai tipe braktea
yang mengiringi bunga dan berfungsi sebagai pelindung.
4) Kotiledon
Kotiledon adalah daun pertama dari
tumbuhan.
5) Profil (Prophyl)
Daun pertama pada cabang lateral.
Berikut merupakan anatomi secara umum pada daun:
Secara histologi, daun tersusun dari tiga tipe jaringan, yaitu epidermis,
mesofil, dan jaringan pembuluh.
Epidermis daun dari tumbuhan yang
berbeda beragam dalam hal jumlah lapisan, bentuk, struktur, susunan stomata,
penampilan, dan susunan trikoma, serta adanya sel khusus.Struktur dalamnya
biasanya berbentuk pipih.Daun memiliki dua jenis jaringan epidermis yaitu
permukaan atas daun disebut permukaan adaksial dan permukaan bawah disebut
permukaan abaksial.Pada lapisan ini tidak ada ruang antar sel. Di antara sel
epidermis terdapat sel penjaga yang membentuk stomata.Struktur stomata yang
dapat membuka dan menutup ini berfungsi sebagai tempat terjadinya pertukaran
gas dan air.Sifat terpenting pada jaringan daun ini adalah susunan selnya yang
kompak dan adanya kutikula serta stomata.
Berikut merupakan contoh jaringan epidermis selapis;
Mesofil terdiri atas jaringan
parenkim yang terdapat di sebelah dalam epidermis.Mesofil mengalami
diferensiasi membentuk jaringan fotosintetik yang berisi kloroplas.Pada
kebanyakan tumbuhan terdapat dua jenis parenkim dalam mesofil, yaitu parenkim
palisade dan parenkim spons.
A) Parenkim Palisade
Sel parenkim palisade memanjang dan
pada penampang melintangnya tampak berbentuk batang yang tersusun dalam
deretan. Pada tumbuhan tertentu, sel palisade berbeda bentuknya. Pada Lilium
terdapat lobus besar pada sel palisade dan tampak bercabang.
Sel
palisade terdapat di bawah epidermis unilateral (selapis) atau multilateral
(berlapis banyak).Seringkali terdapat hipodermis di antara epidermis dan jaringan
palisade. Sel parenkim palisade tersusun atas satu atau lebih lapisan. Apabila
tersusun lebih dari satu lapisan, panjang sel pada tiap lapisan atau sama, atau
malah semakin ke tengah semakin pendek. Jaringan palisade biasanya terdapat
pada permukaan abaksial daun. Meskipun jaringan palisade tampak lebih rapat,
sisi panjang selnya saling terpisah sehingga udara dalam ruang antarsel tetap
mencapai sisi panjang; kloroplas pada sitoplasma melekat di tepi dinding sel
itu. Hal tersebut mengakibatkan proses fotosintesis dapat berlangsung efesien.
Pada Thymelaea
hirsuta, sel parenkim palisade terdapat pada permukaan abaksial daun.Pada
daun tumbuhan xerofit, misalnya pada Atriplex portulacoides, parenkim
palisade terdapat pada kedua sisi daun. Daun yang mempunyai parenkim palisade
pada kedua sisi (abaksial dan adaksial) disebut isolateral atau isobilateral
sedangkan apabila jaringan palisade tersebut hanya pada bagian adaksial disebut
dengan bifasial atau dorsiventral.
B) Parenkim Spons
Jaringan spons terdiri dari sel
bercabang yang tak teratur bentuknya.Bentuk sel parenkim spons dapat berbentuk
bermacam-macam.Kekhususannya adalah adanya lobus (rongga) yang terdapat antara
sel satu dan lainnya. Membedakan antara sel parenkim palisade dengan parenkim
spons tidaklah selalu mudah, khususnya apabila parenkim palisade terdiri atas
beberapa lapisan. Alasannya adalah apabila palisade terdiri atas beberapa
lapisan, biasanya lapisan paling dalam sangat mirip dengan parenkim spons yang
ada di dekatnya.
Pada
tumbuhan tertentu, seperti pada Zea dan banyak rumput-rumputan lainnya,
bentuk sel mesofil lebih kurang sama. Bahkan pada Eucalyptus dan Atriplex,
sukar untuk membedakan antara kedua tipe parenkim.Pada jaringan spons ini
terdapat jarak atau ruang antar sel. Ciri khas jaringan spons adalah adanya
lekukan-lekukan yang menjadi penghubung antar sel.
Pada
daun dengan kedua macam mesofil, kloroplas paling banyak terdapat dalam
jaringan palisade. Tempat serta susunan kloroplas pada sel tiang memungkinkan
penggunaan cahaya secara maksimum. Faktor lain yang meningkatkan efesiensi
fotosintesis adalah sistem ruang antarsel dalam mesofil yang luas, yang
memudahkan pertukaran gas dengan cepat. Susunan sel di dalam mesofil
memungkinkan daerah permukaan sel yang mendapat sinar dan langsung berhubungan
dengan udara menjadi lebih luas. Seluruh daerah permukaan ini disebut daerah
permukaan dalam daun dan daerah permukaan luar daun.
Berikut merupakan contoh gambar dari jaringan dasar pada daun;
Sistem jaringan pembuluh tersebar di
seluruh helai daun dan dengan demikian menunjukkan adanya hubungan ruang yang
erat dengan mesofil.Jaringan pembuluh membentuk sistem yang saling berkaitan,
dan terletak dalam bidang median, sejajar dengan permukaan daun.Berkas pembuluh
dalam daun biasanya disebut dengan tulang daun dan sistemnya adalah sistem
tulang daun.Terdapat dua macam pola yakni sistem tulang daun jala dan sistem
tulang daun sejajar.Sistem tulang daun jala merupakan sistem bercabang.Pada
sistem ini, tulang daun lebih halus, secara bertahap dibentuk sebagai cabang
dari tulang daun yang tebal.
Sedangkan istilah sejajar bagi
jalannya berkas pembuluh dalam sistem tulang daun sejajar hanyalah sebagai
pendekatan saja, oleh karena berdasar atas ujung dan pangkal daun semua berkas
itu akan bertemu di satu titik. Di antara berkas sejajar itu tampak cabang
halus yang berpola jala dan menghubungkan semua berkas sejajar itu.Pola jala
umumnya ditemukan pada daun dikotil dan pola sejajar pada daun monokotil.
Kemudian apabila pertulangan daunnya
menyirip, tulang daun terbesar melewati bagian tengah daun dan membentuk ibu
tulang daun, dan dari sini bercabang menjadi tulang daun yang lebih
kecil.Bagian helai daun yang dilalui ibu tulang daun atau cabang yang besar
adalah bagian yang lebih tebal dan menunjukkan gambaran seperti rusuk pada sisi
abaksial.Rusuk ini dibentuk oleh jaringan parenkim yang miskin kloroplas dan
jaringan penyokongnya kolenkim.Oleh karena itu, tulang daun yang besar tidak
mempunyai kontak langsung dengan mesofil.
Sedangkan pada tulang daun yang
kecil biasanya membentuk jaring-jaring yang sangat beragam bentuk dan ukurannya,
serta membagi daerah mesofil.Daerah yang paling kecil yang dibatasi cabang
paling halus disebut aerola, yang biasanya berisi ujung tulang daun yang buntu
dalam mesofil.
Kebanyaan kasus yang ditemukan,
susunan jaringan pembuluh pada ibu tulang daun mirip dengan pada tangkai daun.
Tulang daun yang besar dalam daun dikotil mungkin terdiri atas jaringan
primer dan sekunder, sedangkan tulang daun yang paling kecil hanya terdiri atas
jaringan primer. Pada tulang daun yang besar biasanya berisi pembuluh, sedangkan
pada tulang daun yang kecil, sel parenkim kontak atau berhubungan langsung
dengan unsur pembuluh dan unsur trakea membentuk sel transfer.
Seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya tulang daun yang besar dikelilingi oleh parenkim yang sedikit
mengandung kloroplas.Sedangkan tulang daun yang lebih kecil biasanya juga
dikelilingi oleh lapisan sel parenkim, yang disebut berkas pegangkut.Berkas
pengangkut ini biasanya terbagi menjadi 2 jenis yaitu, xylem dan floem.Sel
berkas pengangkut ini berdinding tipis untuk memudahkan terjadinya transpor
antar sel, mungkin memiliki kloroplas seperti mesofil. Sering kali terdapat
kristal.
Kebanyakan daun Dikotil, parenkim
berkas pengangkut memperluas ke arah epidermis pada satu atau kedua sisi
daun.Sel yang mencapai arah epidermis ini berfungsi dalam pengangkutan pada
daun. Bukan hanya pada daun Dikotil saja yang memiliki berkas pengangkut akan tetapi
berkas pengangkut juga terdapat dalam daun Monokotil, berkas pengangkut pada
daun Monokotil ini dibedakan menjadi dua tipeyaitu yang mempunyai 1 atau 2
lapisan saja.
Epidermis daun memiliki struktur
yang padat dan diperkuat oleh kutikula sebagai pelindung.Dinding selnya
seringkali tebal atau banyak mengandung silika dan memberikan sokongan pada
helai daun. Jaringan penyokong lainnya adalah kolenkim. Pada daun
Dikotil,kolenkim sering ditemukan di dekat ibu tulang daun, di bawah epidermis
dan juga di tepi daun. Selain kolenkim, pada mesofil daun Dikotil juga
ditemukan skelrida.Tulang daun berukuran besar atau sedang, dikelilingi oleh
sekelompok serabut.Pada kebanyakan daun monokotil berkas pengangkut dikelilingi
oleh serabut pada satu atau dua sisi berkas pengangkut, dan berhubungan ke
epidermis.
a) Daun Xeromorf
Xerofit
adalah tumbuhan yang hidup di daerah yang sangat kering seperti di gurun yang
membuat transpirasinya dapat turun sampai minimum di bawah kondisi kekurangan
air.Maka dari itu untuk tetap bertahan hidup di daerah yang kering seperti itu,
struktur atau anatomi daun tumbuhan tersebut pun beradaptasi menjadi lebih
khas.
Daun
xeromorf berukuran kecil. Pengurangan permukaan luar daun dibarengi dengan
perubahan struktur dalamnya,misalnya pengurangan ukuran sel tetapi terjadi
peningkatan ketebalan dinding sel. Perkembangan jaringan sel palisade pun
meningkat. Daun xeromorf pada umumnya tertutupi oleh trikoma.Jaringan penyimpan
air pada daun pun juga berkembang.
Tumbuhan
dengan daun yang kecil yang biasanya mempunyai habitat yang kering. Pengukuran
ukuran daun sering kali diikuti dengan peningkatan jumlah total daun pada
tumbuhan. Daun xeromorf biasanya mempunyai trikoma.Di balik trikoma inilah
stomatanya berada.Trikoma ini selain berfungsi sebagai pelindung atau
mengurangi dari gangguan predator juga berfungsi dalam mengurangi penguapan.
Faktor
lingkungan memengaruhi pembentukan kutikula.Pada beberapa tumbuhan gurun,
stomata menjadi tertutup secara tetap selama musim panas. Penutupan ini diakibatkan
karena sel penutup stomata oleh massa yang mengandung resin atau oleh lapisan
lilin. Seperti pada Rumex acetosella resin serta lapisan lilin yang
terbentuk dalam epidermis dan sel di sekeliling tulang daun pada kondisi musim
panas.
Air
dalam daun diangkut oleh tulang daun, sel mesofil, dan jaringan palisade
daripada jaringan spons. Selain itu juga, jaringan penyimpan air
penyimpan air berkembang baik pada daun. Jaringan penyimpan air pada tumbuhan
xerofit terdiri atas sel besar dengan vakuola besar berisi cairan sel yang
mengandung lendir.Sel ini mempunyai sitoplasma tipis yang menempel pada dinding
sel dan kloroplasnya tersebar. Tekanan osmosis pada sel fotosintesis
lebih tinggi daripada sel yang bukan untuk fotosintesis. Apabila air berkurang,
maka tumbuhan xerofit mendapat air dari jaringan penyimpan air ini.Sel
penyimpan air yang berdinding tipis.Dalam kondisi kering, sel mengerut. Apabila
pasokan air kembali normal, dengan cepat sel akan kembali ke bentuk semula.
Contoh dari xeromorf (Atriplex portulacoides);
gambar
1 : Atriplex portulacoides
b) Hidrofit
Struktur
anatomi tumbuhan hidrofit kurang beragam dibandingkan dengan tumbuhan xerofit.
Faktor yang mempengaruhi struktur tumbuhan air atau hidrofit ini biasanya
bergantung pada suhu, air,konsentrasi dan komposisi garam dalam air. Tumbuhan
air mempunyai sedikit jaringan penyokong dan pelindung, jumlah jaringan
pembuluh sedikit, xilem mengecil, dan mempunyai ruang udara.
Epidermis
tumbuhan air tidak berfungsi untuk perlindungan, tetapi lebih untuk pengeluaran
zat makanan, senyawa air, dan pertukaran gas.Kutikula dan dinding selnya sangat
tipis.Sel epidermis berisi kloroplas.Daun yang mengapung mempunyai stomata
hanya pada permukaan atas daun saja.Beberapa tumbuhan air memiliki sekelompok
sel yang disebut dengan hydropotes, yang berfungsi untuk memudahkan
pengangkutan air dan garam ke luar dan ke dalam tumbuhan. Contoh tumbuhan
Hidrofit (Ranunculus aquatilis) dapat dilihat pada gambar berikut;
gambar 2 : Ranunculus aquatilis
Sebagian besar daun pada Gymnospermae selalu berwarna hijau
dan bersifat xeromorf.Salah satu kekhususan daun Gymnospermae adalah adanya
jaringan transfusi.Jaringan ini mengelilingi berkas pengangkut dan tersusun
atas trakeida, parenkim, dan sel albumin.Jaringan ini berbeda-beda jumlahnya
dan susunanya, bergantung pada genusnya.
Pada daun Pinus sel epidermisnya berdinding tebal,
mempunyai kutikula tebal, dan stomatanya tersembunyi. Mesofil terdiri atas
parenkim palisade dan parenkim spons. Mesofil ini berisikan kloroplas.Sel
parenkimnya berisi tanin, resin dan kadang-kadang juga pati.Berkas
pengangkutnya bersama jaringan transfusi dikelilingi oleh selubung yang
berdinding sel relatif tebal, yaitu sel endodermis.Semua dinding antiklin
berisi senyawa penutup tanpa zat gabus, tetapi mengandung banyak lignin.Vakuola
berisi banyak badan berbentuk bola.Sedangkan sitoplasmanya berisi RE halus,
gelembung, kloroplas dan badan lemak.
Secara umum perkembangan daun dimulai dari tahap permulaan (inisiasi),
diferensiasi awal, perkembangan aksis daun, asal-usul helai daun, dan
histogenesis jaringan helai daun.
Tahap permulaan (Inisiasi)
Inisiasi daun dimulai dengan pembelahan periklin dalam kelompok sel kecil sel
pada sisi pucuk.Jumlah lapisan sel yang mulai membelah dan posisinya pada pucuk
beragam pada tumbuhan yang berbeda.Primordia daun berasal dari lapisan dari
lapisan paling luar pucuk batang.
Pada semua tumbuhan Dikotil,pembelahan periklin yang pertama tidak terjadi pada
sel lapisan permukaan, tetapi pada sel yang terletak satu ata dua lapisan
dibawahnya. Lapisanpermukaan diperluas dengan adanya pembelahan antiklin
beberapa kali.
Kasus yang paling sering terjadi, inisiasi dari primordia daun dimulai pada
lapisan sel di bawah lapisan permukaan.Dalam hal ini lapisan sel tunika dan
lapisan sel tetangganya dari korpus ikut serta dalam inisisiasi primordium yang
berbeda.
Diferensiasi Awal
Sebagai hasil kelanjutan pembelahan sel, primordium daun menonjol dari pucuk
batang sebagai penyokong yang mempunyai bentuk papila kecil atau
tonjolan.Penyokong daun terdiri atas lapisan protoderm dan untaian prokambium,
yang tumbuh secara akropetal dan tidak seberapa jauh darikambium batang.
Perkembangan Aksis Daun
Pada kebanyakan daun Dikotil dan Gymnospermae, perkembangan aksis daun
mendahului helai daun.Hasil perkembangan cepat dari primordia menjadi bentuk
seperti kerucut yang runcing dengan sisi adaksialpipih (rata).Ujung kerucut ini
merupakan sebagai meristem apikal. Pada tumbuhan tertentu, dari tahpa awal
perkembangan ketika primordium masih berukuran 1 mm, peningkatan atau
perkembangan lebih lanjut akan terjadi karena pembelahan dan pemanjangan sel
yang berjarak dari ujung primordium. Pertumbuhan ini disebut dengan pertumbuhan
interkalar.
Asal usul Helai Daun
Selama pemanjangan awal dan penebalan aksis daun muda, sel bagian tepi adaksial
terus membelah dengan cepat.Inisial pinggiran adalah sel lapisan paling luar
pada tepi helai daun muda. Pada Angiospermae, biasanya inisial ini akan
membelah hanya ke arah antiklin dan penambahan sel baru terjadi ke arah
protoderm abaksial dan adaksial.
Pada daun majemuk menjari dan menyirip, helai daun lateral berkembang dari
meristem pinggiran adaksial dan aksis daun muda sebagai dua deretan papila.
Pada tumbuhan lain, perkembangan helai daun ada yang terjadi secara akropetal
ataupun bisepetal.
Histogenesis Jaringan Helai Daun
Pertumbuhan pinggiran berlangsung terus-menerus lebih panjang dari pertumbuhan
apikal, tetapi berhenti relatif awal. Setelah pertumbuhan pinggiran
berhenti,pertumbuhan lebih lanjut darihelai daun dilakukan oleh pembelahan sel
helai daun. Pembelahan secara antiklin membentuk lempeng meristem.Aktivitas
lempeng meristem menghasilkan peningkatan daerah permukaan, tetapi tidak
terjadi penebalan organ.Pada helai daun, sel meristem berlapis sehingga relatif
mudah untuk melacak asal-usul epidermis, jaringan palisade dan spons, serta
berkas pengangkut.
Pertumbuhan daun ini dikendalikan oleh faktor genetis, tetapi juga dipengaruhi
oleh kondisi lingkungan luar dan dalam. Faktor luar yang memengaruhi daun
antara lain seperti pasokanair,nutrisi,panjang hari, dan intensitas sinar.
Dibawah ini merupakan titik tumbuh dari daun;
Pemisahan aktif daun dari cabang,
tanpa meninggalkan luka, disebut absisi daun.Daun sering tanggal pada musim
kemarau, atau saat kekurangan air, tanpa meninggalkan luka. Absisi juga
merupakan adaptasi yang bermanfaat guna melepaskan daun tua, buah masak, dan
bunga yang tidak akan menghasilkan buah, serta merupakan cara pemangkasan diri
jika jumlah cabang terlampau banyak.
Absisi daun biasanya disiapkan di dekat dasar tangkai daun atau pangkal daun.
Daerah pengguguran ini secara histologi dapat dibedakan dengan jaringan yang
lain yaitu bagian luarnya ditandai dengan adanya lekukan dangkal atau adanya
perbedaan warna epidermis.
Sistem pembuluh dalam daerah pengguguran ini biasanya terpusat di
tengah.Perkembangan sklerenkim dan kolenkim kurang baik atau bahkan tidak
ada.Pada daerah pengguguran terdapat dua lapisan pemisah, tempat terjadinya
pelepasan organ dan merupakan lapisan pelindung dari kekeringan dan masuknya parasit.
Di daerah absisi tersebut terjadi perubahan sitologi dan biokimiawi dalam sel
di daearah pemisah yang akhirnya memisahkan daun dari cabangnya.Pada kebanyakan
daun, bunga, dan buah dan beberapa batang, persiapan lapisan absisi terjadi
sewaktu ontogeni.Namun, lapisan absisi bisa juga terjadi langsung setelah ada
kondisi yang merangsang absisi. Padadaerah absisi, jaringan tersklerifikasi
sering tereduksi dan jaringan pembuluh terkondensasi di tengah,bukan di tepi.
Pada beberapa spesies, daerah absisi seperti itu terdapat di tempat pertemuan
tangkai dan sendi daun.
Secara histologi, pemisahan atau absisi terjadi melalui tahap histologi sebagai
berikut:
1) Pecahnya sel empulur
2) Pembelahan sel dalam korteks
3) Diferensiasi dan pembesaran sel
4) Pemecahan sel pembuluh dan korteks
Tanggalnya
daun atau gugurnya daun tidak perlu selalu berasosiasi dengan peristiwa
pelarutan dinding sel atau lamela tengah.Di kebanyakan monokotil dan beberapa
dikotil basah, tekanan fisik mengakibatkan pemisahan daun.
Banyak
penelitian telah dilakukan terhadap zat pengatur absisi.Senyawa yang paling
dikenal adalah auksin dan etilen.Auksin menghambat absisi jika dibubuhkan
setelah daerah absisi dibentuk, namun belum mengalami pelemahan struktural.Auksin
juga dapat menghambat pembentukan zona absisi.Nampaknya, etilen merupakan
senyawa yang memacu lengkapnya peristiwa absisi. Karena senyawa etilen
digunakan untukmerusak dinding sel dan proses enzim respirasi. Peroksidase
mengakibatkan peningkatan sintesis etilen, dan fosfatase berasosiasi dengan
peristiwa penuaan.
Daerah
absisi daun dapat lebih jelas dilihat ada gambar berikut ini;
RANGKUMAN:
Daun merupakan organ tanaman yang berfungsi untuk fotosintesis. Secara umum
anatomi tumbuhan terbagi menjadi 3 jaringan yaitu:Epidermis, Mesofil, dan
Berkas Pembuluh. Epidermis berfungsi sebagai pelindung, dan di salah satu
bagiannya terdapat stomata yang berfungsi sebagai jalan masuk dan keluar air
serta gas seperti CO2 dan O2. Mesofil terdiri atas
jaringan parenkim palisade dan parenkim spons, yang mengandung klorofil dan
otomatis berfungsi dalam berfotosintesis. Sedangkan berkas pembuluh yang
didalamnya terdapat xylem dan floem tentunya berfungsi dalam pengangkutan atau
transportasi air serta hasil fotosintesis.
Pada tumbuhan yang hidup di daerah kering dan di air anatomi daunnya
beradaptasi dengan lingkungannya.Pada tumbuhan yang hidup didaerah kering, daun
mereduksi menjadi ukuran yang kecil, selnya berdinding tebal, seringkali
ditutupi trikoma, dan mempunyai banyak jaringan penyimpan air serta memiliki
tingkat transpirasi yang tinggi. Sedangkan pada tumbuhan yang hidup di air
epidermisnya tidak berfungsi sebagai pelindung melainkan sebagai jalan keluar
masuknya air,pertukaran gas, dan pengeluaran nutrisi. Pada mesofil terdapat
lebih banyak gelembung-gelembung atau ruang udara.
Perkembangan daun terjadi melalui beberapa tahapan sebagai berikut inisiasi
(tahap permulaan), diferensiasi awal,perkembangan sumbu (aksis) daun, dan
perkembangan helai daun. Pertumbuhannya ini selain dipengaruhi oleh faktor
genetis, juga dipengaruhi oleh faktor dalam dan luar tumbuhan itu sendiri.
Anonim, 2010.“Respirasi Tanaman”
http://biogen.litbang.deptan.go.id/.
Dwidjoseputro, D., 1992, Pengantar Fisiologi Tumbuhan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Grander, Pearce dan R.L. Mithell. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Universitas Indonesia. Jakarta.
Lakitan, Benyamin. 1993. Dasar – Dasar Fosiologi Tumbuhan. Rajawali Pers : Jakarta.
Suharjo, Usman Kris Joko. 2011. Penuntun Praktikum Dasar – Dasar Fisiologi Tumbuhan Tanaman. Jurusan Budidaya Tanaman UNIB : Bengkulu.
Dwidjoseputro, D., 1992, Pengantar Fisiologi Tumbuhan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Grander, Pearce dan R.L. Mithell. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Universitas Indonesia. Jakarta.
Lakitan, Benyamin. 1993. Dasar – Dasar Fosiologi Tumbuhan. Rajawali Pers : Jakarta.
Suharjo, Usman Kris Joko. 2011. Penuntun Praktikum Dasar – Dasar Fisiologi Tumbuhan Tanaman. Jurusan Budidaya Tanaman UNIB : Bengkulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar